Berikut ini adalah tips dan triks yang dapat
menjadi masukan berharga dalam mempersiapkan diri dalam menghadapi ulangan atau
ujian :
1. Belajar Kelompok
Belajar kelompok dapat menjadi kegiatan belajar menjadi lebih menyenangkan
karena ditemani oleh teman dan berada di rumah sendiri sehingga dapat lebih
santai. Namun sebaiknya tetap didampingi oleh orang dewasa seperti kakak,
paman, bibi atau orang tua agar belajar tidak berubah menjadi bermain. Belajar
kelompok ada baiknya mengajak teman yang pandai dan rajin belajar agar yang
tidak pandai jadi ketularan pintar. Dalam belajar kelompok kegiatannya adalah
membahas pelajaran yang belum dipahami oleh semua atau sebagian kelompok
belajar baik yang sudah dijelaskan guru maupun belum dijelaskan guru.
2. Rajin Membuat Catatan Intisari Pelajaran
Bagian-bagian penting dari pelajaran sebaiknya dibuat catatan di kertas atau buku
kecil yang dapat dibawa kemana-mana sehingga dapat dibaca di mana pun kita
berada. Namun catatan tersebut jangan dijadikan media mencontek karena dapat
merugikan kita sendiri.
3. Membuat Perencanaan Yang Baik
Untuk mencapai suatu tujuan biasanya diiringi oleh rencana yang baik. Oleh
karena itu ada baiknya kita membuat rencana belajar dan rencana pencapaian
nilai untuk mengetahui apakah kegiatan belajar yang kita lakukan telah maksimal
atau perlu ditingkatkan. Sesuaikan target pencapaian dengan kemampuan yang kita
miliki. Jangan menargetkan yang yang nomor satu jika saat ini kita masih di
luar 10 besar di kelas. Buat rencana belajar yang diprioritaskan pada mata
pelajaran yang lemah. Buatlah jadwal belajar yang baik.
4. Disiplin Dalam Belajar
Apabila kita telah membuat jadwal belajar maka harus dijalankan dengan baik.
Contohnya seperti belajar tepat waktu dan serius tidak sambil main-main dengan
konsentrasi penuh. Jika waktu makan, mandi, ibadah, dan sebagainya telah tiba
maka jangan ditunda-tunda lagi. Lanjutkan belajar setelah melakukan kegiatan
tersebut jika waktu belajar belum usai. Bermain dengan teman atau game dapat
merusak konsentrasi belajar. Sebaiknya kegiatan bermain juga dijadwalkan dengan
waktu yang cukup panjang namun tidak melelahkan jika dilakukan sebelum waktu
belajar. Jika bermain video game sebaiknya pilih game yang mendidik dan tidak
menimbulkan rasa penasaran yang tinggi ataupun rasa kekesalan yang tinggi jika
kalah.
5. Menjadi Aktif Bertanya dan Ditanya
Jika ada hal yang belum jelas, maka tanyakan kepada guru, teman atau orang tua.
Jika kita bertanya biasanya kita akan ingat jawabannya. Jika bertanya,
bertanyalah secukupnya dan jangan bersifat menguji orang yang kita tanya.
Tawarkanlah pada teman untuk bertanya kepada kita hal-hal yang belum dia
pahami. Semakin banyak ditanya maka kita dapat semakin ingat dengan jawaban dan
apabila kita juga tidak tahu jawaban yang benar, maka kita dapat membahasnya
bersama-sama dengan teman. Selain itu
6. Belajar Dengan Serius dan Tekun
Ketika belajar di kelas dengarkan dan catat apa yang guru jelaskan. Catat yang
penting karena bisa saja hal tersebut tidak ada di buku dan nanti akan keluar
saat ulangan atau ujian. Ketika waktu luang baca kembali catatan yang telah
dibuat tadi dan hapalkan sambil dimengerti. Jika kita sudah merasa mantap
dengan suatu pelajaran maka ujilah diri sendiri dengan soal-soal. Setelah soal
dikerjakan periksa jawaban dengan kunci jawaban. Pelajari kembali soal-soal
yang salah dijawab.
7. Hindari Belajar Berlebihan
Jika waktu ujian atau ulangan sudah dekat biasanya kita akan panik jika belum
siap. Jalan pintas yang sering dilakukan oleh pelajar yang belum siap adalah
dengan belajar hingga larut malam / begadang atau membuat contekan. Sebaiknya
ketika akan ujian tetap tidur tepat waktu karena jika bergadang semalaman akan
membawa dampak yang buruk bagi kesehatan, terutama bagi anak-anak.
8. Jujur Dalam Mengerjakan Ulangan Dan Ujian
Hindari mencontek ketika sedang mengerjakan soal ulangan atau ujian. Mencontek
dapat membuat sifat kita curang dan pembohong. Kebohongan bagaimanapun juga
tidak dapat ditutup-tutupi terus-menerus dan cenderung untuk melakukan
kebohongan selanjutnya untuk menutupi kebohongan selanjutnya. Anggaplah dengan
nyontek pasti akan ketahuan guru dan memiliki masa depan sebagai penjahat
apabila kita melakukan kecurangan.
Semoga tips cara belajar yang benar ini dapat
memberikan manfaat untuk kita semua, amin.
Jumat, 28 November 2014
Jumat, 31 Oktober 2014
EVALUASI
1.
Data
negara Indonesia selama 13 tahun diketahui sebagai berikut :
|
Tahun
|
X
|
Y
|
|
1996
|
41.50
|
7.82
|
|
1997
|
70.47
|
4.7
|
|
1998
|
63.97
|
-13.13
|
|
1999
|
46.92
|
1.76
|
|
2000
|
72.55
|
3.92
|
|
2001
|
61.85
|
3.83
|
|
2002
|
43.37
|
4.38
|
|
2003
|
39.35
|
4.72
|
|
2004
|
47.79
|
5.03
|
|
2005
|
50.80
|
5.69
|
|
2006
|
43.72
|
5.50
|
|
2007
|
44.90
|
6.28
|
|
2008
|
50.13
|
6.06
|
Sumber : BPS,
diolah
Dimana :
Y = Pertumbuhan ekonomi Indonesia (persen)
X = Keterbukaan ekonomi (di-proxy dengan rasio ekspor dan impor
terhadap PDB, dalam satuan persen)
a)
Gambarkan
scatter diagram atau scattergram berdasarkan data di atas !
b)
Berdasarkan
scatter diagram, tentukan apakah
hubungan X dan Y positif atau negatif !
c)
Jika
hubungan X dan Y merupakan regresi linear sederhana dengan persamaan Yt
= a + bXt + et , dengan menggunakan metode kuadrat
terkecil, coba Anda hitung koefisien regresi a dan b dengan cara manual !
Berikan makna masing-masing koefisien regresi tersebut ! Dan cari standard error masing-masing !
d)
Coba
jawab pertanyaan no c dengan menggunakan EViews !
e)
Jika
diketahui X = 55 , berapa ramalan Y ?
f)
Hitung
r2 dan r dengan cara manual, berikan juga interpretasinya !
g)
Jika
sekarang modelnya kita ubah menjadi model log-log yaitu lnY = a + lnX + e ,
menurut Anda lebih bagus mana ? Jelaskan alasannya dan buktikan !
ANALISIS REGRESI LINIER BERGANDA :PERSOALAN ESTIMASI DAN PENGUJIAN HIPOTESIS
Y = 1+ 2X2+ 3X3+…+kXk+ u
Multiple Linier Regression
Dalam regresi linier berganda variabel tak bebas Y, tergantung kepada dua atau lebih variabel.
Populasi : Yi= B1+ B2X2i+ B3X3i+ ...+ BkiXki+ εi
Sampel : Yi= b1+ b2X2i+ b3X3i+ ...+ bkiXki+ ei
Untuk model 3 variabel, berarti k=3, satu variabel tidak bebas Y dan 2 variabel bebas X2dan X3: Yi= b1+ b2X2i+ b3X3i+ ei
Ŷi= b1+ b2X2i+ b3X3i
Asumsi dalam Model Regresi Berganda
1. E(єi) = 0, untuksetiapi, i= 1,2,…, n.Artinya,rata-rata kesalahan penggangu nol.
2. Kov. (єi, єj) = 0, i≠ jArtinya,kovarian (εi, εj) nol. Dengan perkataan lain,tidak ada korelasi antara kesalahan pengganggu yang satu dengan yang lainnya.
3. Var. (єi) = σ2, untuksetiapi, i= 1,2,…, n Artinya, setiap kesalahan penganggu mempunyai varian yang sama.
4. Kov. (єi, X2i) = Kov. (єi, X3i) = 0 Artinya kovarian setiap kesalahan pengganggu dengan setiap variabel bebas nol, dengan perkataan lain taka dakorelasi antara kesalahan pengganggu dengan setiap variabel bebas yang tercakup dalam persamaan regresi liniear berganda.
5.Tak ada“multicollinearity”,yang berarti tak ada hubungan linear yang eksakantara variabel-variabel bebas. Dalam hal 3 variabel tak ada korelasi antaraX2& X3.
Multiple Linier Regression
Dalam regresi linier berganda variabel tak bebas Y, tergantung kepada dua atau lebih variabel.
Populasi : Yi= B1+ B2X2i+ B3X3i+ ...+ BkiXki+ εi
Sampel : Yi= b1+ b2X2i+ b3X3i+ ...+ bkiXki+ ei
Untuk model 3 variabel, berarti k=3, satu variabel tidak bebas Y dan 2 variabel bebas X2dan X3: Yi= b1+ b2X2i+ b3X3i+ ei
Ŷi= b1+ b2X2i+ b3X3i
Asumsi dalam Model Regresi Berganda
1. E(єi) = 0, untuksetiapi, i= 1,2,…, n.Artinya,rata-rata kesalahan penggangu nol.
2. Kov. (єi, єj) = 0, i≠ jArtinya,kovarian (εi, εj) nol. Dengan perkataan lain,tidak ada korelasi antara kesalahan pengganggu yang satu dengan yang lainnya.
3. Var. (єi) = σ2, untuksetiapi, i= 1,2,…, n Artinya, setiap kesalahan penganggu mempunyai varian yang sama.
4. Kov. (єi, X2i) = Kov. (єi, X3i) = 0 Artinya kovarian setiap kesalahan pengganggu dengan setiap variabel bebas nol, dengan perkataan lain taka dakorelasi antara kesalahan pengganggu dengan setiap variabel bebas yang tercakup dalam persamaan regresi liniear berganda.
5.Tak ada“multicollinearity”,yang berarti tak ada hubungan linear yang eksakantara variabel-variabel bebas. Dalam hal 3 variabel tak ada korelasi antaraX2& X3.
Minggu, 19 Oktober 2014
Perihal Aktiva Tetap
2.1 Aktiva Tetap
Aktiva tetap merupakan salah satu komponen aktiva yang berperan penting dalam kegiatan usaha perusahaan. Aktiva tetap biasanya menyangkut jumlah dana yang sangat besar dan untuk beberapa perusahaan tertentu jumlah aktiva tetap adalah yang terbesar dibandingkan jenis aktiva lainnya
2.1.1 Pengertian dan Prinsip Dasar Akuntansi Aktiva Tetap
Selanjutnya secara berurutan akan diuraikan mengenai pengertian dan prinsip dasar akuntansi yang menyangkut aktiva tetap.
2.1.1.1 Pengertian Aktiva Tetap
Menurut Abdul Halim dan Bambang Supomo (2001: 154) aktiva tetap adalah
“Aktiva tetap adalah kekayaan yang dimiliki dan digunakan untuk beroperasi dan memiliki masa manfaat dimasa yang akan datang lebih dari satu periode anggaran serta tidak dimaksudkan untuk dijual.”
Adapun definisi lain yang dikemukakan Horngren & Harison (1997: 502) adalah :
“Aktiva yang dapat digunakan dalam jangka yang lama dan bentuk fisiknya memberikan kegunaan dari aktiva tersebut.”
Dari definisi aktiva tetap di atas dinyatakan bahwa aktiva tetap tersebut mempunyai masa manfaat lebih dari satu periode akuntansi, digunakan dalam bentuk operasi perusahaan, dan tidak dimaksudkan untuk dijual dalam kegiatan normal perusahaan. Aktiva tetap mempunyai usia yang terbatas kecuali tanah, dan aktiva tetap bersifat non moneter dalam artian masa manfaatnya diterima dari penggunaan atau penjualan jasa-jasa dan bukan dari pengubahannya menjadi sejumlah uang tertentu.
2.1.1.2 Prinsip Dasar Akuntansi
Menurut Williams & Stargo (1997 : 470) ada empat prinsip yang digunakan dalam akuntansi aktiva tetap yaitu :
1. Aktiva tetap pada permulaannya dicatat pada historical cost.
2. Cost dari aktiva tetap dialokasikan sebagai penyusutan atau deplesi dengan cara yang sistematis dan rasional untuk mencapai kesesuaian biaya dan pendapatan selama masa manfaat aktiva tersebut.
3. Penetapan cost dan alokasi berikutnya dari cost diperlukan berdasarkan berbagai estimasi dan asumsi tentang pemakaian dari aktiva tersebut.
4. Cost yang tidak dialokasikan dari aktiva tetap yang disebut dengan nilai buku, adalah tidak dimaksudkan untuk mendekati harga pasar dari aktiva tetap tersebut.
2.1.2 Klasifikasi Aktiva TetapAktiva yang digunakan dalam operasi perusahaan digolongkan kedalam dua kategori yaitu aktiva berwujud dan aktiva tidak bewujud. Penggolongan semacam ini dikemukakan oleh Smith & Skousen (1997 : 387), adalah sebagai berikut :
1. Aktiva tetap yang berwujud (tangible fixed assets)
Merupakan harta berwujud yang bersifat jangka panjang dalam aktivitas operasi perusahaan, didalamnya meliputi; tanah, bangunan, perabot, mesin-mesin, dan peralatan lain yang digunakan untuk menghasilkan atau memudahkan penjualan barang dan jasa.
2. Aktiva tetap tidak berwujud (intangible fixed assets)
Tidak dapat dibservasi atau dilihat secara langsung, didalamnya berbentuk persetujuan, kontrak, atau paten, tetapi harta itu sendiri tidak memiliki eksistensi fisik. Harata tak berwujud termasuk pos-pos seperti hak cipta, paten, goodwill, dan perjanjian monopoli.
2.1.3 Kapitalisasi Aktiva Tetap
Alokasi biaya yang tepat harus dilaksanakan diantara berbagai pos aktiva dan beban karena akan mempengaruhi perhitungan laba untuk serangkaian periode akuntansi. Oleh karena itu pendapatan hanya dapat diukur dengan wajar apabila pengeluaran-pengeluaran ditetapkan dan dikelompokkan seperti dikemukakan oleh Niswonger & Warren (1999 : 412), adalah sebagai berikut :
1. Pengeluaran Modal (Capital Expenditure) yaitu biaya akuisisi aktiva tetap yang ditambahkan ke aktiva tetap itu sendiri untuk meningkatkan nilai total aktiva tetap, atau memperpanjang umur manfaatnya.
2. Pengeluaran Pendapatan (Revenue Expenditure) yaitu biaya yang hanya menyumbangkan keuntungan dalam periode berjalan atau biaya yang muncul sebagian dari proses reparasi dan pemeliharaan normal.
Selain pertimbangan masa manfaat, kadangkala untuk alasan kepraktisan, dilakukan penyimpangan yaitu jika ; jumlah pengeluaran itu relatif kecil, manfaat dimasa yang akan datang tidak begitu berarti, sulit untuk mengukur manfaat dimasa yang akan datang maka pengeluaran itu dikelompokkan sebagai pengelaran pendapatan (revenue expenditure).
2.1.4 Pencatatan Perolehan Aktiva Tetap
Aktiva tetap dicatat berdasarkan nilai perolehannya, sesuai pernyataan dalam Standar Akuntansi Keuangan dalam Pengakuan Awal Aktiva, yaitu :
“Suatu benda yang berwujud yang memenuhi kualifikasi untuk diakui sebagai suatu aktiva dan dikelompokkan sebagai aktiva tetap, pada awalnya harus diukur berdasarkan biaya perolehan”.
Biaya perolehan suatu aktiva tetap terdiri dari harga belinya, termasuk bea impor dan PPn Masukan Tak Boleh Restitusi (non-refundable), dan setiap biaya yang dapat distribusi secara langsung dalam membawa aktiva tetap tersebut ke kondisi yang membuat aktiva tersebut dapat bekerja untuk penggunaan yang dimaksudkan. (SAK, 2002 : 16)
Dapat disimpulkan bahwa pencatatan aktiva tetap dilakukan dengan menggunakan prinsip historical cost. Nilai yang dicatat tidak hanya mencakup harga belinya saja, akan tetapi semua biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh aktiva tetap tersebut siap digunakan. Aktiva tetap dicatat dan dinyatakan dalam neraca sebesar nilai buku yaitu nilai perolehan dikurangi dengan akumulsi penyusutan.
Adapun untuk memperoleh aktiva tetap menurut Zaki Baridwan (1997 : 274) dapat dilakukan dengan cara :
1. Pembelian Tunai
Aktiva tetap yang diperoleh dari pembelian tuanai dicatat dalam buku-buku dengan jumlah sebesar uang yang dikeluarkan. Dalam jumlah uang yang dikeluarkan untuk memperoleh aktiva tetap termasuk harga faktur dan semua biaya yang dikeluarkan agar aktiva tetap tersebut siap untuk dipakai, seperti biaya angkut, premi asuransi dalam perjalanan, biaya balik nama, biaya pemasangan dan biaya percobaan. Semua biaya-biaya di atas dikapitalisasi sebagai harga perolehan aktiva tetap.
2. Pembelian Angsuran
Apabila aktiva tetap diperoleh dari pembelian angsuran, maka dalam harga perolehan aktiva tetap tidak boleh termasuk bunga. Bunga selama masa angsuran baik jelas-jelas dinyatakan maupun tidak dinyatakan tersendiri, harus dikeluarkan dari harga perolehan dan dibebankan sebagai biaya bunga.
3. Ditukar dengan Surat-Surat Berharga
Aktiva tetap yang diperoleh dengan cara ditukar dengan saham atau obligasi perusahaan, dicatat dalam buku sebesar harga pasar saham atau obligasi yang digunakan sebagai penukar. Apabila harga pasar saham atau obligasi itu tidak diketahui, harga perolehan aktiva tetap ditentukan sebesar harga pasar aktiva tersebut.
4. Ditukar dengan Aktiva Tetap yang Lain
Banyak pembelian aktiva tetap dilakukan dengan cara tukar menukar, atau sering disebut “tukar tambah”, dimana aktiva lama digunakan untuk membayar harga aktiva baru, baik seluruhnya atau sebagian dimana kekurangannya dibayar tunai. Dalam keadaan seperti ini, prinsip harga perolehan tetap harus digunakan, yaitu aktiva baru dikapitalisasikan dengan jumlah sebesar harga pasar aktiva lama ditambah uang yang dibayarkan (kalau ada) atau dikapitalisasikan sebesar harga pasar aktiva baru yang diterima. Dalam hal pertukaran ini akan dipisahkan menjadi dua yaitu pertama untuk pertukaran aktiva yang tidak sejenis dan kedua, untuk pertukaran aktiva tetap yang sejenis.
· Pertukaran Aktiva yang Tidak Sejenis
Yang dimaksudkan dengan pertukaran aktiva tetap yang tidak sejenis adalah pertukaran aktiva tetap yang sifat dan fungsinya tidak sama seperti pertukaran tanah dengan mesin-mesin, tanah dan gedung dan lain-lain. Penentuan harga perolehan dalam pertukaran seperti ini harus didasarkan pada harga pasar aktiva tetap yang diserahkan ditambah uang yang dibayarkan. Bila harga pasar aktiva yang diserahkan tidak dapat diketahui, maka harga perolehan aktiva baru didasarkan pada harga pasar aktiva baru.
· Pertukaran Aktiva Tetap yang Sejenis
Yang dimaksud dengan pertukara aktiva tetap yang sejenis adalah pertukaran aktiva tetap yang sifatnya dan fungsinya sama seperti pertukaran mesin produk merk A dengan merk B, atau Truk merk A dengan merk B, dan seterusnya.
5. Diperoleh dari Hadiah / Donasi
Aktiva tetap yang diperoleh dari hadiah / donasi, pencatatannya bisa dilakukan menyimpang dari prinsip harga perolehannya. Untuk menerima hadiah, mungkin dikeluarkan biaya-biaya, tetapi biaya-biaya tersebut jauh lebih kecil dari nilai aktiva tetap yang diterima. Apabila aktiva dicatat sebesar yang sudah dikeluarkan, maka hal ini akan menyebabkan jumlah aktiva dan modal terlalu kecil, juga beban depresiasi menjadi terlalu kecil. Untuk mengatasi keadaan seperti ini maka aktiva yang diterima sebagai hadiah dicatat sebesar harga pasarnya.
6. Aktiva yang Dibuat Sendiri
Perusahaan mungkin membuat sendiri aktiva tetap yang diperlukan seperti gedung, alat-alat dan perabot. Pembuatan aktiva tetap ini biasanya dengan tujuan untuk mengisi kapasitas atau pegawai yang masih idle. Dalam pembuatan aktiva, semua biaya yang dapat dibebankan langsung seperti bahan, upah langsung dan factory overhead langsung tidak menimbulkan masalah dalm menentukan harga pokok aktiva yang dibuat.
2.1.5 Penentuan Harga Perolehan Aktiva Tetap
Dalam menetapkan besarnya nilai perolehan aktiva tetap berlaku prinsip harga perolehan yang menyatakan bahwa semua pengeluaran yang terjadi sehingga aktiva tersebut siap digunakan, karena aktiva tetap itu bermacam-macam maka Zaki Baridwan (1997 : 287) menguraikannya sebagai berikut :
1. Tanah
Harga perolehan tanah terdiri dari berbagai elemen seperti; harga beli, komisi pembelian, bea balik nama, biaya penelitian tanah, iuran-iuran (pajak-pajak) selama tanah belum dipakai, biaya merobohkan bangunan lama, biaya perataan tanah, pajak-pajak yang jadi beban pembeli tanah pada waktu pembelian tanah. Biaya-biaya yang dikeluarkan untuk memperbaiki keadaan tanah tetapi mempunyai umur yang terbatas tidak dikapitalisasi dalam rekening tanah tetapi dicatat sendiri dalam rekening jalan-jalan dan jembatan. Biaya-biaya seperti itu misalnya biaya untuk membuat jalan, trotoar, dan saluran air. Jika tanah dimiliki untuk tujuan investasi, maka semua biaya yang timbul dalam hubungannya dengan tanah tersebut selama masa pemilikan dikapitalisasi menambah harga perolehan.
2. Bangunan
Biaya yang dikapitalisasi sebagai harga perolehan gedung adalah; harga beli, biaya perbaikkan sebelum gedung itu dipakai, komisi pembelian, bea balik nama, pajak-pajak yang menjadi tanggungan pembeli pada waktu pembelian. Apabila gedung itu dibuat sendiri maka harga perolehan gedung terdiri dari; biaya-biaya pembuatan gedung, biaya perencanaan, biaya pengurusan izin bangunan, pajak-pajak selama masa pembangunan gedung, bunga selam pembuatan gedung, asuransi selama masa pembangunan. Alat-alat perlengkapan gedung seperti tangga berjalan, lift dan lain-lain dicatat tersendiri dalam rekening alat-alat gedung dan akan didepresiasi selama umur alat-alat tersebut.
3. Mesin dan Alat-alat
Yang merupakan harga perolehan mesin dan alat-alat adalah; harga beli, pajak pajak yang menjadi beban pembeli, biaya angkut, asuransi dalam perjalanan, biaya pemasangan, biaya-biaya yang dikeluarkan selama masa percobaan mesin. Apabila mesin itu dibuat sendiri maka harga perolehannya terdiri dari semua biaya yang dikeluarkan untuk membuat mesin. Mesin yang disewa dari pihak lain, biaya sewanya tidak dikapitalisasi tetapi dibebankan sebagai biaya pada periode terjadinya.
4. Kendaraan
Yang termasuk harga perolehan kendaraan adalah harga faktur, bea balik nama dan biaya angkut. Pajak-pajak yang dibayar setiap periode seperti pajak kendaraan bermotor, jasa raharja, dan lain-lain dibebankan sebagai biaya pada periode yang bersangkutan. Harga perolehan kendaraan ini didepresiasi selama masa kegunaannya.
2.1.6 Penyusutan
Aktiva tetap kecuali tanah atau hak atas tanah pada waktu digunakan dalam operasi perusahaan yang dimaksudkan untuk memperoleh laba, kegunaannya akan semakin menurun. Penurunan kegunaan aktiva tetap tersebut mengakibatkan nilainya harus disusutkan. Proses itu dinamakan penyusutan untuk aktiva berwujud yang dapat diganti.
Proses penyusutan ini penekanan utamanya adalah pada pengalokasian biaya dari cost aktiva tetap ke biaya periode untuk ditandingkan dengan pendapatan yang dilaporkan pada masing-masing periode selama digunakan aktiva tersebut.
2.1.6.1 Pengertian PenyusutanDefinisi penyusutan menurut Smith & Skousen (1997 : 491) adalah sebagai berikut :
“Pengalokasian harga perolehan aktiva secara sistematik dan rasional selama masa manfaat dari aktiva bersangkutan.”
Adapun definisi lain penyusutan yang dikemukakan Cashin & Feldman (1997 : 201) adalah sebagai berikut :
“Suatu proses alokasi biaya, bukan penilaian atas aktiva. Dengan sasaran aktiva yang berwujud seperti pabrik dan alat-alat, biaya penyusutan merupakan suatu penurunan dalam potensi pelayanan dari aktiva yang bersangkutan sepanjang umur kegunaannya.”
Menurut definisi di atas jumlah total yang dibebankan terhadap pendapatan ditetapkan dengan nilai perolehan terlebih dahulu dikurangi estimasi nilai sisa yang dimanfaatkan atau nilai residu.
2.1.6.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penentuan Beban Penyusutan
Tiga faktor menurut Horgren & Harison yang akan mempengaruhi penetapan beban penyusutan yaitu; Harga peolehan, Umur kegunaan, Nilai sisa (1997 506).
Sedangkan menurut Smith & Skousen (1997 492) menyatakan ada empat faktor yang mempengaruhinya, antara lain :
1. Biaya / harga perolehan aktiva tetap
Meliputi seluruh pengeluaran yang berkaitan dengan perolehan dan penyiapannya untuk dapat digunakan.
2. Nilai Residual
Jumlah yang diperkirakan dapat direlisasikan pada saat aktiva sudah tidak digunakan lagi.
3. Masa Manfaat
Aktiva tetap selain tanah memiliki masa manfaat terbatas karena faktor-faktor fisik dan fungsional tertentu.
4. Pola Penggunaan
Untuk menandingkan harga perolehan aktiva tetap terhadap pendapatan, beban penyusutan periode harus mencerminkan setepat mungkin pola penggunaan.
Dapat disimpulkan dari pendapat-pendapat di atas bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi dalam penentuan penyusutan adalah sebagai berikut :
1. Dasar penyusutan yang terdiri atas :
a. Nilai perolehan aktiva tetap.
b. Nilai residu yang diperkirakan
2. Masa Manfaat
3. Pola Penggunaan
2.1.6.3 Metode Penyusutan
Untuk mengalokasikan cost aktiva tetap ke periode-periode yang memperoleh manfaat terdapat beberapa metode yang dapat digunakan. Metode yang digunakan hendaknya merupakan suatu hasil pertimbangan dan harus diseleksi agar sedapat mungkin mendekati pola penggunaan yang diperkirakan atas aktiva yang bersangkutan.
Menurut IAI (2002 : 17.3) metode-metode penyusutan dapat dilakukan dengan berbagai metode yang dapat dikelompokkan menurut kriteria berikut :
1. Berdasarkan waktu :
a. Metode garis lurus (Straight-line method)
b. Metode pembebanan yang menurun:
§ Metode jumlah-angka-tahun (sum-of-the-years-digit-method).
§ Metode saldo menurun / saldo-menurun-ganda (declining / double-declining balance method)
2. Berdasarkan Penggunaan :
a. Metode jam-jasa (sevice-hours method).
b. Metode jumlah unit produksi (productive-output method).
3. Berdasarkan kriteria lainnya :
a. Metode berdasarkan jenis dan kelompok (grup and composite method).
b. Metode anuitas (annuity method).
c. Sistem persediaan (inventory system).
Sedangkan Zaki Baridwan (1997 : 309) mengelompokkan metode penyusutan sebagai berikut :
1. Metode Garis Lurus (straight-line method).
2. Metode Jam Jasa (service-hours method).
3. Metode Hasil Produksi (productive output method).
4. Metode Beban Berkurang (reducing charge method).
5. Metode Tarif Kelompok / Gabungan.
Sedangkan dalam perpajakan yang dikemukakan oleh Mardiasmo bahwa metode penyusutan yang dipergunakan adalah :
1. Metode Garis lurus (straight line).
2. Metode Saldo Menurun (declining balanced method).
2.2 Investasi
Dalam perencanaan jangka panjang, manajemen menghadapi masalah penambahan mesin dan ekuipment baru untuk memenuhi bertambahnya permintaan terhadap produk perusahaan, dan masalah penggantian aktiva tetap yang sudah tidak ekonomis pemakaiannya, serta masalah-masalah lain yang berhubungan dengan investasi atau penanaman modal. Karena pada umumnya investasi membutuhkan dana yang relatif besar, dan keterikatan dana tersebut dalam jangka waktu yang relatif panjang, serta mengandung resiko, maka diperlukan pertimbangan yang masak sebelum investasi tersebut dilaksanakan.
2.2.1 Pengertian InvestasiAdapun definisi investasi menurut Mulyadi (1997 : 284) adalah :
“Investasi adalah pengkaitan sumber-sumber dalam jangka panjang untuk menghasilkan laba dimasa yang akan datang.”
Definisi lain dikemukakan oleh Hendi Somantri (1999 : 30) adalah :
“Investasi adalah yakni penanaman modal diluar usaha pokok perusahaan, tujuannya antara lain adalah untuk memperoleh penghasilan.”
Menurut definisi di atas investasi merupakan penanaman modal jangka panjang dengan tujuan untuk menghasilkan laba yang akan datang.
2.2.2 Kriteria Penilaian Investasi
Dalam pemilihan usulan investasi, manajemen memerlukan informasi akuntansi diferensial sebagai salah satu dasar penting untuk menentukan pilihan investasi. Investasi dipilih oleh manajemen berdasarkan model pengambilan keputusan yang mendasarkan pada jangka waktu pengembalian investasi atau kemampuan investasi dalam menghasilkan laba.
Ada beberapa metode untuk menilai perlu tidaknya suatu investasi atau memilih berbagai macam alternatif investasi, yang dikemukakan oleh Mulyadi (1997 : 292) adalah sebagai berikut :
1. Pay Back Method
Dalam pay back method, faktor yang menentukan penerimaan atau penolakan suatu usulan investasi adalah jangka waktu yang diperlukan untuk menutup kembali investasi. Oleh karena itu, dengan metode ini setiap usulan investasi dinilai berdasarkan apakah dalam jangka waktu tertentu yang diinginkan oleh manajemen, jumlah kas masuk bersih rata-rata per tahun atau biaya diferensial yang berupa penghematan tunai per tahun yang diperoleh dari investasi dapat menutup investasi yang direncanakan.
2. Metode Rata-Rata Kembalian Investasi
Sering metode ini disebut accounting method atau financial statement method karena dalam perhitungannya digunakan laba akuntansi, yaitu laba sesudah pajak sama dengan laba tunai dikurangi biaya depresiasi.
3. Present Value Method
Metode ini telah memperhitungkan nilai waktu uang, dimana yang dipertimbangkan manajemen adalah besarnya selisih antara pendapatan diferensial dengan biaya diferensial serta dampak pajak penghasilan sebagai akibat dari adanya pendapatan diferensial dan biaya diferensial selama umur ekonomis aktiva tetap tersebut, kemudian dinilai tunaikan dengan tarif kembalian tertentu. Jumlah nilai tunai ini kemudian dibandingkan dengan aktiva diferensial untuk mempertimbangkan tidaknya tambahan aktiva tetap tersebut.
4. Discounted Cash Flows Method
Pada dasarnya discounted cash flows method sama dengan present value method, karena kedua-duanya memperhitungkan nilai waktu uang di masa yang akan datang. Perbedaannya adalah dalm present value method tarif kembalian sudah ditentukan lebih dahulu sebagai tarif kembalian, sedangkan dalam discounted cash flow method justru tarif kembalian ini yang dihitung sebagai dasar untuk menerima atau menolak suatu usulan investasi.
Sumber : Manskm
Aktiva tetap merupakan salah satu komponen aktiva yang berperan penting dalam kegiatan usaha perusahaan. Aktiva tetap biasanya menyangkut jumlah dana yang sangat besar dan untuk beberapa perusahaan tertentu jumlah aktiva tetap adalah yang terbesar dibandingkan jenis aktiva lainnya
2.1.1 Pengertian dan Prinsip Dasar Akuntansi Aktiva Tetap
Selanjutnya secara berurutan akan diuraikan mengenai pengertian dan prinsip dasar akuntansi yang menyangkut aktiva tetap.
2.1.1.1 Pengertian Aktiva Tetap
Menurut Abdul Halim dan Bambang Supomo (2001: 154) aktiva tetap adalah
“Aktiva tetap adalah kekayaan yang dimiliki dan digunakan untuk beroperasi dan memiliki masa manfaat dimasa yang akan datang lebih dari satu periode anggaran serta tidak dimaksudkan untuk dijual.”
Adapun definisi lain yang dikemukakan Horngren & Harison (1997: 502) adalah :
“Aktiva yang dapat digunakan dalam jangka yang lama dan bentuk fisiknya memberikan kegunaan dari aktiva tersebut.”
Dari definisi aktiva tetap di atas dinyatakan bahwa aktiva tetap tersebut mempunyai masa manfaat lebih dari satu periode akuntansi, digunakan dalam bentuk operasi perusahaan, dan tidak dimaksudkan untuk dijual dalam kegiatan normal perusahaan. Aktiva tetap mempunyai usia yang terbatas kecuali tanah, dan aktiva tetap bersifat non moneter dalam artian masa manfaatnya diterima dari penggunaan atau penjualan jasa-jasa dan bukan dari pengubahannya menjadi sejumlah uang tertentu.
2.1.1.2 Prinsip Dasar Akuntansi
Menurut Williams & Stargo (1997 : 470) ada empat prinsip yang digunakan dalam akuntansi aktiva tetap yaitu :
1. Aktiva tetap pada permulaannya dicatat pada historical cost.
2. Cost dari aktiva tetap dialokasikan sebagai penyusutan atau deplesi dengan cara yang sistematis dan rasional untuk mencapai kesesuaian biaya dan pendapatan selama masa manfaat aktiva tersebut.
3. Penetapan cost dan alokasi berikutnya dari cost diperlukan berdasarkan berbagai estimasi dan asumsi tentang pemakaian dari aktiva tersebut.
4. Cost yang tidak dialokasikan dari aktiva tetap yang disebut dengan nilai buku, adalah tidak dimaksudkan untuk mendekati harga pasar dari aktiva tetap tersebut.
2.1.2 Klasifikasi Aktiva TetapAktiva yang digunakan dalam operasi perusahaan digolongkan kedalam dua kategori yaitu aktiva berwujud dan aktiva tidak bewujud. Penggolongan semacam ini dikemukakan oleh Smith & Skousen (1997 : 387), adalah sebagai berikut :
1. Aktiva tetap yang berwujud (tangible fixed assets)
Merupakan harta berwujud yang bersifat jangka panjang dalam aktivitas operasi perusahaan, didalamnya meliputi; tanah, bangunan, perabot, mesin-mesin, dan peralatan lain yang digunakan untuk menghasilkan atau memudahkan penjualan barang dan jasa.
2. Aktiva tetap tidak berwujud (intangible fixed assets)
Tidak dapat dibservasi atau dilihat secara langsung, didalamnya berbentuk persetujuan, kontrak, atau paten, tetapi harta itu sendiri tidak memiliki eksistensi fisik. Harata tak berwujud termasuk pos-pos seperti hak cipta, paten, goodwill, dan perjanjian monopoli.
2.1.3 Kapitalisasi Aktiva Tetap
Alokasi biaya yang tepat harus dilaksanakan diantara berbagai pos aktiva dan beban karena akan mempengaruhi perhitungan laba untuk serangkaian periode akuntansi. Oleh karena itu pendapatan hanya dapat diukur dengan wajar apabila pengeluaran-pengeluaran ditetapkan dan dikelompokkan seperti dikemukakan oleh Niswonger & Warren (1999 : 412), adalah sebagai berikut :
1. Pengeluaran Modal (Capital Expenditure) yaitu biaya akuisisi aktiva tetap yang ditambahkan ke aktiva tetap itu sendiri untuk meningkatkan nilai total aktiva tetap, atau memperpanjang umur manfaatnya.
2. Pengeluaran Pendapatan (Revenue Expenditure) yaitu biaya yang hanya menyumbangkan keuntungan dalam periode berjalan atau biaya yang muncul sebagian dari proses reparasi dan pemeliharaan normal.
Selain pertimbangan masa manfaat, kadangkala untuk alasan kepraktisan, dilakukan penyimpangan yaitu jika ; jumlah pengeluaran itu relatif kecil, manfaat dimasa yang akan datang tidak begitu berarti, sulit untuk mengukur manfaat dimasa yang akan datang maka pengeluaran itu dikelompokkan sebagai pengelaran pendapatan (revenue expenditure).
2.1.4 Pencatatan Perolehan Aktiva Tetap
Aktiva tetap dicatat berdasarkan nilai perolehannya, sesuai pernyataan dalam Standar Akuntansi Keuangan dalam Pengakuan Awal Aktiva, yaitu :
“Suatu benda yang berwujud yang memenuhi kualifikasi untuk diakui sebagai suatu aktiva dan dikelompokkan sebagai aktiva tetap, pada awalnya harus diukur berdasarkan biaya perolehan”.
Biaya perolehan suatu aktiva tetap terdiri dari harga belinya, termasuk bea impor dan PPn Masukan Tak Boleh Restitusi (non-refundable), dan setiap biaya yang dapat distribusi secara langsung dalam membawa aktiva tetap tersebut ke kondisi yang membuat aktiva tersebut dapat bekerja untuk penggunaan yang dimaksudkan. (SAK, 2002 : 16)
Dapat disimpulkan bahwa pencatatan aktiva tetap dilakukan dengan menggunakan prinsip historical cost. Nilai yang dicatat tidak hanya mencakup harga belinya saja, akan tetapi semua biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh aktiva tetap tersebut siap digunakan. Aktiva tetap dicatat dan dinyatakan dalam neraca sebesar nilai buku yaitu nilai perolehan dikurangi dengan akumulsi penyusutan.
Adapun untuk memperoleh aktiva tetap menurut Zaki Baridwan (1997 : 274) dapat dilakukan dengan cara :
1. Pembelian Tunai
Aktiva tetap yang diperoleh dari pembelian tuanai dicatat dalam buku-buku dengan jumlah sebesar uang yang dikeluarkan. Dalam jumlah uang yang dikeluarkan untuk memperoleh aktiva tetap termasuk harga faktur dan semua biaya yang dikeluarkan agar aktiva tetap tersebut siap untuk dipakai, seperti biaya angkut, premi asuransi dalam perjalanan, biaya balik nama, biaya pemasangan dan biaya percobaan. Semua biaya-biaya di atas dikapitalisasi sebagai harga perolehan aktiva tetap.
2. Pembelian Angsuran
Apabila aktiva tetap diperoleh dari pembelian angsuran, maka dalam harga perolehan aktiva tetap tidak boleh termasuk bunga. Bunga selama masa angsuran baik jelas-jelas dinyatakan maupun tidak dinyatakan tersendiri, harus dikeluarkan dari harga perolehan dan dibebankan sebagai biaya bunga.
3. Ditukar dengan Surat-Surat Berharga
Aktiva tetap yang diperoleh dengan cara ditukar dengan saham atau obligasi perusahaan, dicatat dalam buku sebesar harga pasar saham atau obligasi yang digunakan sebagai penukar. Apabila harga pasar saham atau obligasi itu tidak diketahui, harga perolehan aktiva tetap ditentukan sebesar harga pasar aktiva tersebut.
4. Ditukar dengan Aktiva Tetap yang Lain
Banyak pembelian aktiva tetap dilakukan dengan cara tukar menukar, atau sering disebut “tukar tambah”, dimana aktiva lama digunakan untuk membayar harga aktiva baru, baik seluruhnya atau sebagian dimana kekurangannya dibayar tunai. Dalam keadaan seperti ini, prinsip harga perolehan tetap harus digunakan, yaitu aktiva baru dikapitalisasikan dengan jumlah sebesar harga pasar aktiva lama ditambah uang yang dibayarkan (kalau ada) atau dikapitalisasikan sebesar harga pasar aktiva baru yang diterima. Dalam hal pertukaran ini akan dipisahkan menjadi dua yaitu pertama untuk pertukaran aktiva yang tidak sejenis dan kedua, untuk pertukaran aktiva tetap yang sejenis.
· Pertukaran Aktiva yang Tidak Sejenis
Yang dimaksudkan dengan pertukaran aktiva tetap yang tidak sejenis adalah pertukaran aktiva tetap yang sifat dan fungsinya tidak sama seperti pertukaran tanah dengan mesin-mesin, tanah dan gedung dan lain-lain. Penentuan harga perolehan dalam pertukaran seperti ini harus didasarkan pada harga pasar aktiva tetap yang diserahkan ditambah uang yang dibayarkan. Bila harga pasar aktiva yang diserahkan tidak dapat diketahui, maka harga perolehan aktiva baru didasarkan pada harga pasar aktiva baru.
· Pertukaran Aktiva Tetap yang Sejenis
Yang dimaksud dengan pertukara aktiva tetap yang sejenis adalah pertukaran aktiva tetap yang sifatnya dan fungsinya sama seperti pertukaran mesin produk merk A dengan merk B, atau Truk merk A dengan merk B, dan seterusnya.
5. Diperoleh dari Hadiah / Donasi
Aktiva tetap yang diperoleh dari hadiah / donasi, pencatatannya bisa dilakukan menyimpang dari prinsip harga perolehannya. Untuk menerima hadiah, mungkin dikeluarkan biaya-biaya, tetapi biaya-biaya tersebut jauh lebih kecil dari nilai aktiva tetap yang diterima. Apabila aktiva dicatat sebesar yang sudah dikeluarkan, maka hal ini akan menyebabkan jumlah aktiva dan modal terlalu kecil, juga beban depresiasi menjadi terlalu kecil. Untuk mengatasi keadaan seperti ini maka aktiva yang diterima sebagai hadiah dicatat sebesar harga pasarnya.
6. Aktiva yang Dibuat Sendiri
Perusahaan mungkin membuat sendiri aktiva tetap yang diperlukan seperti gedung, alat-alat dan perabot. Pembuatan aktiva tetap ini biasanya dengan tujuan untuk mengisi kapasitas atau pegawai yang masih idle. Dalam pembuatan aktiva, semua biaya yang dapat dibebankan langsung seperti bahan, upah langsung dan factory overhead langsung tidak menimbulkan masalah dalm menentukan harga pokok aktiva yang dibuat.
2.1.5 Penentuan Harga Perolehan Aktiva Tetap
Dalam menetapkan besarnya nilai perolehan aktiva tetap berlaku prinsip harga perolehan yang menyatakan bahwa semua pengeluaran yang terjadi sehingga aktiva tersebut siap digunakan, karena aktiva tetap itu bermacam-macam maka Zaki Baridwan (1997 : 287) menguraikannya sebagai berikut :
1. Tanah
Harga perolehan tanah terdiri dari berbagai elemen seperti; harga beli, komisi pembelian, bea balik nama, biaya penelitian tanah, iuran-iuran (pajak-pajak) selama tanah belum dipakai, biaya merobohkan bangunan lama, biaya perataan tanah, pajak-pajak yang jadi beban pembeli tanah pada waktu pembelian tanah. Biaya-biaya yang dikeluarkan untuk memperbaiki keadaan tanah tetapi mempunyai umur yang terbatas tidak dikapitalisasi dalam rekening tanah tetapi dicatat sendiri dalam rekening jalan-jalan dan jembatan. Biaya-biaya seperti itu misalnya biaya untuk membuat jalan, trotoar, dan saluran air. Jika tanah dimiliki untuk tujuan investasi, maka semua biaya yang timbul dalam hubungannya dengan tanah tersebut selama masa pemilikan dikapitalisasi menambah harga perolehan.
2. Bangunan
Biaya yang dikapitalisasi sebagai harga perolehan gedung adalah; harga beli, biaya perbaikkan sebelum gedung itu dipakai, komisi pembelian, bea balik nama, pajak-pajak yang menjadi tanggungan pembeli pada waktu pembelian. Apabila gedung itu dibuat sendiri maka harga perolehan gedung terdiri dari; biaya-biaya pembuatan gedung, biaya perencanaan, biaya pengurusan izin bangunan, pajak-pajak selama masa pembangunan gedung, bunga selam pembuatan gedung, asuransi selama masa pembangunan. Alat-alat perlengkapan gedung seperti tangga berjalan, lift dan lain-lain dicatat tersendiri dalam rekening alat-alat gedung dan akan didepresiasi selama umur alat-alat tersebut.
3. Mesin dan Alat-alat
Yang merupakan harga perolehan mesin dan alat-alat adalah; harga beli, pajak pajak yang menjadi beban pembeli, biaya angkut, asuransi dalam perjalanan, biaya pemasangan, biaya-biaya yang dikeluarkan selama masa percobaan mesin. Apabila mesin itu dibuat sendiri maka harga perolehannya terdiri dari semua biaya yang dikeluarkan untuk membuat mesin. Mesin yang disewa dari pihak lain, biaya sewanya tidak dikapitalisasi tetapi dibebankan sebagai biaya pada periode terjadinya.
4. Kendaraan
Yang termasuk harga perolehan kendaraan adalah harga faktur, bea balik nama dan biaya angkut. Pajak-pajak yang dibayar setiap periode seperti pajak kendaraan bermotor, jasa raharja, dan lain-lain dibebankan sebagai biaya pada periode yang bersangkutan. Harga perolehan kendaraan ini didepresiasi selama masa kegunaannya.
2.1.6 Penyusutan
Aktiva tetap kecuali tanah atau hak atas tanah pada waktu digunakan dalam operasi perusahaan yang dimaksudkan untuk memperoleh laba, kegunaannya akan semakin menurun. Penurunan kegunaan aktiva tetap tersebut mengakibatkan nilainya harus disusutkan. Proses itu dinamakan penyusutan untuk aktiva berwujud yang dapat diganti.
Proses penyusutan ini penekanan utamanya adalah pada pengalokasian biaya dari cost aktiva tetap ke biaya periode untuk ditandingkan dengan pendapatan yang dilaporkan pada masing-masing periode selama digunakan aktiva tersebut.
2.1.6.1 Pengertian PenyusutanDefinisi penyusutan menurut Smith & Skousen (1997 : 491) adalah sebagai berikut :
“Pengalokasian harga perolehan aktiva secara sistematik dan rasional selama masa manfaat dari aktiva bersangkutan.”
Adapun definisi lain penyusutan yang dikemukakan Cashin & Feldman (1997 : 201) adalah sebagai berikut :
“Suatu proses alokasi biaya, bukan penilaian atas aktiva. Dengan sasaran aktiva yang berwujud seperti pabrik dan alat-alat, biaya penyusutan merupakan suatu penurunan dalam potensi pelayanan dari aktiva yang bersangkutan sepanjang umur kegunaannya.”
Menurut definisi di atas jumlah total yang dibebankan terhadap pendapatan ditetapkan dengan nilai perolehan terlebih dahulu dikurangi estimasi nilai sisa yang dimanfaatkan atau nilai residu.
2.1.6.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penentuan Beban Penyusutan
Tiga faktor menurut Horgren & Harison yang akan mempengaruhi penetapan beban penyusutan yaitu; Harga peolehan, Umur kegunaan, Nilai sisa (1997 506).
Sedangkan menurut Smith & Skousen (1997 492) menyatakan ada empat faktor yang mempengaruhinya, antara lain :
1. Biaya / harga perolehan aktiva tetap
Meliputi seluruh pengeluaran yang berkaitan dengan perolehan dan penyiapannya untuk dapat digunakan.
2. Nilai Residual
Jumlah yang diperkirakan dapat direlisasikan pada saat aktiva sudah tidak digunakan lagi.
3. Masa Manfaat
Aktiva tetap selain tanah memiliki masa manfaat terbatas karena faktor-faktor fisik dan fungsional tertentu.
4. Pola Penggunaan
Untuk menandingkan harga perolehan aktiva tetap terhadap pendapatan, beban penyusutan periode harus mencerminkan setepat mungkin pola penggunaan.
Dapat disimpulkan dari pendapat-pendapat di atas bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi dalam penentuan penyusutan adalah sebagai berikut :
1. Dasar penyusutan yang terdiri atas :
a. Nilai perolehan aktiva tetap.
b. Nilai residu yang diperkirakan
2. Masa Manfaat
3. Pola Penggunaan
2.1.6.3 Metode Penyusutan
Untuk mengalokasikan cost aktiva tetap ke periode-periode yang memperoleh manfaat terdapat beberapa metode yang dapat digunakan. Metode yang digunakan hendaknya merupakan suatu hasil pertimbangan dan harus diseleksi agar sedapat mungkin mendekati pola penggunaan yang diperkirakan atas aktiva yang bersangkutan.
Menurut IAI (2002 : 17.3) metode-metode penyusutan dapat dilakukan dengan berbagai metode yang dapat dikelompokkan menurut kriteria berikut :
1. Berdasarkan waktu :
a. Metode garis lurus (Straight-line method)
b. Metode pembebanan yang menurun:
§ Metode jumlah-angka-tahun (sum-of-the-years-digit-method).
§ Metode saldo menurun / saldo-menurun-ganda (declining / double-declining balance method)
2. Berdasarkan Penggunaan :
a. Metode jam-jasa (sevice-hours method).
b. Metode jumlah unit produksi (productive-output method).
3. Berdasarkan kriteria lainnya :
a. Metode berdasarkan jenis dan kelompok (grup and composite method).
b. Metode anuitas (annuity method).
c. Sistem persediaan (inventory system).
Sedangkan Zaki Baridwan (1997 : 309) mengelompokkan metode penyusutan sebagai berikut :
1. Metode Garis Lurus (straight-line method).
2. Metode Jam Jasa (service-hours method).
3. Metode Hasil Produksi (productive output method).
4. Metode Beban Berkurang (reducing charge method).
5. Metode Tarif Kelompok / Gabungan.
Sedangkan dalam perpajakan yang dikemukakan oleh Mardiasmo bahwa metode penyusutan yang dipergunakan adalah :
1. Metode Garis lurus (straight line).
2. Metode Saldo Menurun (declining balanced method).
2.2 Investasi
Dalam perencanaan jangka panjang, manajemen menghadapi masalah penambahan mesin dan ekuipment baru untuk memenuhi bertambahnya permintaan terhadap produk perusahaan, dan masalah penggantian aktiva tetap yang sudah tidak ekonomis pemakaiannya, serta masalah-masalah lain yang berhubungan dengan investasi atau penanaman modal. Karena pada umumnya investasi membutuhkan dana yang relatif besar, dan keterikatan dana tersebut dalam jangka waktu yang relatif panjang, serta mengandung resiko, maka diperlukan pertimbangan yang masak sebelum investasi tersebut dilaksanakan.
2.2.1 Pengertian InvestasiAdapun definisi investasi menurut Mulyadi (1997 : 284) adalah :
“Investasi adalah pengkaitan sumber-sumber dalam jangka panjang untuk menghasilkan laba dimasa yang akan datang.”
Definisi lain dikemukakan oleh Hendi Somantri (1999 : 30) adalah :
“Investasi adalah yakni penanaman modal diluar usaha pokok perusahaan, tujuannya antara lain adalah untuk memperoleh penghasilan.”
Menurut definisi di atas investasi merupakan penanaman modal jangka panjang dengan tujuan untuk menghasilkan laba yang akan datang.
2.2.2 Kriteria Penilaian Investasi
Dalam pemilihan usulan investasi, manajemen memerlukan informasi akuntansi diferensial sebagai salah satu dasar penting untuk menentukan pilihan investasi. Investasi dipilih oleh manajemen berdasarkan model pengambilan keputusan yang mendasarkan pada jangka waktu pengembalian investasi atau kemampuan investasi dalam menghasilkan laba.
Ada beberapa metode untuk menilai perlu tidaknya suatu investasi atau memilih berbagai macam alternatif investasi, yang dikemukakan oleh Mulyadi (1997 : 292) adalah sebagai berikut :
1. Pay Back Method
Dalam pay back method, faktor yang menentukan penerimaan atau penolakan suatu usulan investasi adalah jangka waktu yang diperlukan untuk menutup kembali investasi. Oleh karena itu, dengan metode ini setiap usulan investasi dinilai berdasarkan apakah dalam jangka waktu tertentu yang diinginkan oleh manajemen, jumlah kas masuk bersih rata-rata per tahun atau biaya diferensial yang berupa penghematan tunai per tahun yang diperoleh dari investasi dapat menutup investasi yang direncanakan.
2. Metode Rata-Rata Kembalian Investasi
Sering metode ini disebut accounting method atau financial statement method karena dalam perhitungannya digunakan laba akuntansi, yaitu laba sesudah pajak sama dengan laba tunai dikurangi biaya depresiasi.
3. Present Value Method
Metode ini telah memperhitungkan nilai waktu uang, dimana yang dipertimbangkan manajemen adalah besarnya selisih antara pendapatan diferensial dengan biaya diferensial serta dampak pajak penghasilan sebagai akibat dari adanya pendapatan diferensial dan biaya diferensial selama umur ekonomis aktiva tetap tersebut, kemudian dinilai tunaikan dengan tarif kembalian tertentu. Jumlah nilai tunai ini kemudian dibandingkan dengan aktiva diferensial untuk mempertimbangkan tidaknya tambahan aktiva tetap tersebut.
4. Discounted Cash Flows Method
Pada dasarnya discounted cash flows method sama dengan present value method, karena kedua-duanya memperhitungkan nilai waktu uang di masa yang akan datang. Perbedaannya adalah dalm present value method tarif kembalian sudah ditentukan lebih dahulu sebagai tarif kembalian, sedangkan dalam discounted cash flow method justru tarif kembalian ini yang dihitung sebagai dasar untuk menerima atau menolak suatu usulan investasi.
Sumber : Manskm
Sabtu, 18 Oktober 2014
Perbedaan Pengeluaran Modal dan Pengeluaran Pendapatan Written By Ahmad Santosa on Tuesday, May 8, 2012 | 12:23 AM
Pengeluaran modal (capital expenditure) adalah biaya-biaya
yang dikeluarkan dalam rangka memperoleh aktiva tetap, meningkatkan
efisiensi operasional dan kapasitas produktif aktiva tetap, serta
memperpanjang masa manfaat aktiva tetap. Biaya-biaya ini biasanya
dikeluarkan dalam jumlah yang cukup besar (material), namun tidak sering
terjadi.
Contoh dari pengeluaran modal adalah biaya-biaya yang dikeluarkan untuk membeli aktiva tetap, tambahan komponen aktiva tetap, dan atau untuk mengganti komponen aktiva tetap yang ada, dengan tujuan untuk memperoleh manfaat, meningkatkan efisiensi, kapasitas, dan atau memperpanjang masa manfaat dari aktiva tetap terkait. Dengan kata lain, pengeluaran modal adalah pengeluaran-pengeluaran yang tidak dibebankan langsung sebagai beban dalam laporan laba rugi, melainkan dikapitalisasi terlebih dahulu sebagai aktiva tetap dineraca, karena pengeluaran-pengeluaran ini akan memberikan manfaat bagi perusahaan di masa mendatang. Pengeluaran-pengeluaran dalam kategori ini akan dicatat dengan cara mendebet akun aktiva tetap terkait. Nantinya, secara periodik dan sistematis, bagian dari harga perolehan aktiva tetap ini akan dialokasikan menjadi beban penyusutan untuk masing-masing periode yang menerima manfaat atas pengeluaran modal tadi.
Sedangkan yang dimaksud dengan pengeluaran pendapatan (revenue expenditure) adalah biaya-biaya yang hanya akan memberi manfaat dalam periode berjalan, sehingga biaya-biaya yang dikeluarkan tidak akan dikapitalisasi sebagai aktiva tetap di neraca, melainkan akan langsung dibebankan sebagai beban dalam laporan laba rugi periode berjalan dimana biaya tersebut terjadi (dikeluarkan). Contoh dari pengeluaran ini adalah beban untuk pemeliharaan dan perbaikan aktiva tetap.
Pengeluaran-pengeluaran yang dilakukan untuk mempertahankan aktiva tetap agar selalu berada dalam kondisi operasional yang baik, dikenal sebagai beban pemeliharaan, contohnya adalah pengeluaran untuk pengecatan dinding bangunan, penggantian pelumas mesin, dan sebagainya. Pengeluaran untuk beban pemeliharaan ini adalah hal yang biasa, terjadi berulang, biasanya dalam jumlah yang kecil (tidak material), dan tidak akan meningkatkan efisinsi, kapasitas, atau memperpanjang masa manfaat dari aktiva tetap terkait, oleh karena itu akan segera dicatat sebagai beban ketika terjadi. Sedangkan pengeluaran-pengeluaran yang dilakukan untuk mengembalikan aktiva tetap ke kondisi operasional yang baik setelah adanya kerusakan dan atau untuk mengganti komponen aktiva tetap yang rusak, dikenal sebagai beban perbaikan.
Pengeluaran untuk beban perbaikan ini juga adalah hal yang biasa, bisa terjadi berulang, biasanya dalam jumlah yang kecil (tidak material), dan tidak akan meningkatkan efisiensi, kapasitas, atau memperpanjang masa manfaat dari aktiva tetap terkait, oleh karena itu juga akan segera dicatat sebagai beban ketika terjadi.
Disarikan dari buku: 225 Soal-Jawaban Akuntansi Dasar, penulis: Hery, S.E., M.Si., halaman: 117 – 119.
Bersumber : Keuangan LSM
Contoh dari pengeluaran modal adalah biaya-biaya yang dikeluarkan untuk membeli aktiva tetap, tambahan komponen aktiva tetap, dan atau untuk mengganti komponen aktiva tetap yang ada, dengan tujuan untuk memperoleh manfaat, meningkatkan efisiensi, kapasitas, dan atau memperpanjang masa manfaat dari aktiva tetap terkait. Dengan kata lain, pengeluaran modal adalah pengeluaran-pengeluaran yang tidak dibebankan langsung sebagai beban dalam laporan laba rugi, melainkan dikapitalisasi terlebih dahulu sebagai aktiva tetap dineraca, karena pengeluaran-pengeluaran ini akan memberikan manfaat bagi perusahaan di masa mendatang. Pengeluaran-pengeluaran dalam kategori ini akan dicatat dengan cara mendebet akun aktiva tetap terkait. Nantinya, secara periodik dan sistematis, bagian dari harga perolehan aktiva tetap ini akan dialokasikan menjadi beban penyusutan untuk masing-masing periode yang menerima manfaat atas pengeluaran modal tadi.
Sedangkan yang dimaksud dengan pengeluaran pendapatan (revenue expenditure) adalah biaya-biaya yang hanya akan memberi manfaat dalam periode berjalan, sehingga biaya-biaya yang dikeluarkan tidak akan dikapitalisasi sebagai aktiva tetap di neraca, melainkan akan langsung dibebankan sebagai beban dalam laporan laba rugi periode berjalan dimana biaya tersebut terjadi (dikeluarkan). Contoh dari pengeluaran ini adalah beban untuk pemeliharaan dan perbaikan aktiva tetap.
Pengeluaran-pengeluaran yang dilakukan untuk mempertahankan aktiva tetap agar selalu berada dalam kondisi operasional yang baik, dikenal sebagai beban pemeliharaan, contohnya adalah pengeluaran untuk pengecatan dinding bangunan, penggantian pelumas mesin, dan sebagainya. Pengeluaran untuk beban pemeliharaan ini adalah hal yang biasa, terjadi berulang, biasanya dalam jumlah yang kecil (tidak material), dan tidak akan meningkatkan efisinsi, kapasitas, atau memperpanjang masa manfaat dari aktiva tetap terkait, oleh karena itu akan segera dicatat sebagai beban ketika terjadi. Sedangkan pengeluaran-pengeluaran yang dilakukan untuk mengembalikan aktiva tetap ke kondisi operasional yang baik setelah adanya kerusakan dan atau untuk mengganti komponen aktiva tetap yang rusak, dikenal sebagai beban perbaikan.
Pengeluaran untuk beban perbaikan ini juga adalah hal yang biasa, bisa terjadi berulang, biasanya dalam jumlah yang kecil (tidak material), dan tidak akan meningkatkan efisiensi, kapasitas, atau memperpanjang masa manfaat dari aktiva tetap terkait, oleh karena itu juga akan segera dicatat sebagai beban ketika terjadi.
Disarikan dari buku: 225 Soal-Jawaban Akuntansi Dasar, penulis: Hery, S.E., M.Si., halaman: 117 – 119.
Bersumber : Keuangan LSM
Pencatatan Aktiva tidak Berwujud
Dilihat dari
masa manfaatnya, aktiva tidak berwujud memiliki kesamaan dengan aktiva
tetap, yaitu memberikan manfaat ekonomi dalam jangka waktu lebih dari
satu periode akuntansi.
Aktiva
tidak berwujud adalah aktiva yang wujud fisiknya tidak dapat dilihat
dengan pancaindra bersifat abstrak. Biasanya berupa hak atau posisi yang
menguntungkan perusahaan dalam usaha memperoleh penghasilan.
Aktiva tidak berwujud dibedakan menjadi 2 macam yaitu :
1. Aktiva tidak berwujud yang masa manfaatnya dibatasi oleh UU
2. Aktiva tidak berwujud yang masa manfaatnya tidak terbatas
Aktiva tidak berwujud yang masa manfaatnya dibatasi oleh UU, antaralain yaitu :
1. Hak Paten
Hak paten adalah hak dari pemerintah kepada seseorang atas
suatu penemuan untuk digunakan sendiri. Masa penggunaan hak paten
dibatasi selama 17 tahun dan setelah masa berlakunya habis bisa
diperbaharui lagi atau diperpanjang.
2. Hak Cipta
Hak
cipta adalah hak yang diberikan pemerintah kepada pengarang, pencipta
lagu/seniman untuk menerbitkan, menjual dan mengawasi ciptaannya. Masa
penggunaannya dibatasi selama 28 tahun dan bisa diperpanjang lagi selama
28 tahun.
3. Hak Monopoli
Hak
monopoli adalah hak istimewa yang diberikan perintah kepada suatu pihak
untuk menggunakan fasilitas punya negara. Hak monopoli bisa diberikan
kepada suatu perusahaan untuk bisnis tertentu, misalnya penjualan produk
tertentu dalam suatu daerah tertentu. Hak monopoli diberikan dalam
batas waktu tertentu.
Aktiva tidak berwujud yang masa manfaatnya tidak terbatas, diantaranya yaitu :
1. Merek Dagang
ini
adalah hal yang sangat penting bagi perusahaan yang menggantungkan
produknya kepada permintaan konsumen. Buat konsumen, merek dagang
memberikan jaminan kualitas yang membedakan dengan produk-produk
lainnya. Oleh karena itu, merek dagang dan nama dagang diakui sebagai
aktiva.
Untuk
mendapatkan jaminan hukum, bisa mendaftarkan ke Departemen Kehakiman
melalui Direktorat Patent. Suatu merek bisa digunakan sepanjang
mempunyai pengaruh yang menguntungkan bagi perusahaan, makanya tidak ada
batas waktu untuk menggunakan merek. Merek dagang bisa dipindahkan ke
pihak lain tetapi tidak mengganggu keberadaab perusahaan yang terkait.
Merek dagang yang dibeli dari pihak lain, harga perolehannya adalah
sebesar harga belinya. Tapi jika merek dagang dibuat sendiri semua biaya
pembuatan dan pendaftarannya ditanggung sendiri.
2. Goodwill
Goodwill
merupakan nilai lebih yang dimiliki oleh suatu perusahaan karena adanya
kelebihan. Contohnya seperti nama yang terkenal, staf dan personalia
yang kemampuannya tinggi, lokasi perusahaan yang menguntungkan.
Akibatnya kemampuan perusahaan melebihi kemampuan normal. Makanya
akuntansi memandang goodwill sebagai kemampuan perusahaan menghasilkan
laba diatas normal.
Salah satu cara untuk menentukan harga perolehan goodwill, contoh :
Perusahaan
Ratna membeli perusahaan Rizal dengan harga Rp. 800.000.000,00. Data
neraca perusahaan Rizal saat transaksi pembelian total aktivanya Rp.
1.850.000.000,00 dan total kewajibannya Rp. 1.000.000.000,00.
Berdasarkan penilaian, harga pasar wajar semua aktiva perusahaan Rizal
berjumlah Rp. 1.750.000.000,00.
Harga perolehan goodwill berdasarkan data diatas sbb :
Harga beli perusahaan Rizal....................... RP. 800.000.000
Harga pasar kekayaan bersih perusahan Rizal:
Rp. 1.750.000.000 - Rp. 1.000.000.000 ........................ Rp. 750.000.000
________________
Harga perolehan goodwill, ...................... Rp. 50.000.000
Rumus goodwill = harga beli - harga pasar wajar
Pencatatan Amortisasi Aktiva Tidak Berwujud
Pada
dasarnya masa penggunaan semua jenis aktiva tidak berwujud akan habis
karena dibatasi oleh UU, perubahan faktor ekonomi permintaan,
persaingan. Oleh karena itu harga perolehan aktiva tidak berwujud
dicatat dalam pembukuan harus di amortisasi. Amortisasi itu adalah
penghapusan.
Pencatatan metode amortisasi aktiva tidak berwujud ada 2 yaitu :
*) metode amortisasi, biasanya menggunakan metode garis lurus
*) beban amortisasi untuk tiap periode, dicatat debet pada akun beban amortisasi dan di kreditkan langsung pada akun aktiva tidak berwujud yang terkait.
Contoh :
suatu
hak paten yang dimiliki dengan harga perolehan Rp. 50.000.000 ditaksir
akan memberikan manfaat ekonomi selama 10 tahun. Jurnal penyesuaian yang
diperlukan pada tiap akhir periode, sebagai berikut:
Des 31 Beban amortisasi patent.......................... Rp. 5.000.000
- Patent .......................................... Rp. 5.000.000
Penyajian Aktiva Tetap & Aktiva Tidak Berwujud Dalam Neraca
Prinsip-prinsip yang harus diperhatikan dalam penyajian aktiva tetap dan aktiva tidak berwujud dalam neraca yaitu :
· tiap jenis aktiva tetap, misal:tanah/hak atas tanah,bagunan dll. harus dinyatakan dalam neraca secara terpisah
· aktiva
tetap dinyatakan sebesar harga perolehannya dan akumulasi penyusutan
dinyatakan sebagai pengurangan harga perolehan aktiva tetap
· masing-masing jenis aktiva tidak berwujud harus dinyatakan dalam neraca secara terpisah
aktiva tidak berwujud dalam neraca dinyatakan sebesar nilai manfaat yang tersisa.
Berdasarkan
prinsip diatas, aktiva tidak berwujud dalam neraca tidak perlu
dinyatakan seharga perolehannya tapi dinyatakan sebesar nilai manfaat
yang tersisa. Apabila taksiran nilai manfaat yang tersisa ternyata lebih
rendah daripada harga bukunya, selisih yang timbul dicatat sebagai rugi
penurunan nilai aktiva tidak berwujud.
Sumber : Ratna Sari
Langganan:
Postingan (Atom)